Ilustrasi alat pencegah hamil yang dimasukan kesaku.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NEW DELHIKetegangan di Timur Tengah kini tak hanya menjadi urusan diplomasi dan militer, namun mulai merambah ke rak-rak apotek di India. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat dan Israel telah memicu efek domino yang mengancam stabilitas kesehatan reproduksi di negeri Bollywood tersebut.

Industri kondom India, salah satu raksasa global, kini berada di titik nadir. Gangguan distribusi bahan petrokimia melalui jalur vital tersebut menyebabkan kelangkaan bahan baku utama yang mengancam produksi miliaran unit alat kontrasepsi.

Margin Tipis di Tengah Badai Biaya

India bukan pemain kecil dalam industri ini. Dengan angka produksi mencapai lebih dari 6 miliar unit per tahun atau sekitar 17% dari total pasokan dunia industri bernilai US$ 860 juta (setara Rp13,3 triliun) ini merupakan tulang punggung pengendalian populasi global.

Namun, di balik angka besar tersebut, para produsen sebenarnya beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Lonjakan biaya produksi akibat krisis logistik menjadi hantaman yang sangat telak.

Produsen mengungkapkan bahwa pasokan minyak silikon, komponen krusial untuk pelumasan kondom, saat ini mengalami “kekurangan besar”. Masalah tidak berhenti di situ; amonia yang berfungsi menstabilkan lateks mentah harganya diprediksi akan melonjak tajam.

“Harga amonia yang digunakan untuk menstabilkan lateks mentah diproyeksikan melonjak hingga 40-50%,” lapor sumber industri terkait dampak krisis tersebut.

Kelangkaan Mulai Menjalar ke Kota Besar

Sentuhan krisis ini mulai dirasakan langsung oleh konsumen di jalanan padat Mumbai dan New Delhi. Di balik etalase kaca apotek yang biasanya penuh, beberapa stok merek mulai menipis atau bahkan kosong.

Kelangkaan ini dipicu oleh ketergantungan tinggi industri dalam negeri terhadap bahan baku impor yang jalurnya terputus akibat blokade di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dunia dan biaya logistik global memperparah situasi, membuat pengiriman barang menjadi lambat dan mahal.

Ancaman Jangka Panjang

Situasi ini diperkirakan akan terus menekan pasar domestik selama konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dengan lebih dari 6,4 miliar unit kondom yang dihasilkan pada tahun 2024, gangguan sekecil apa pun pada rantai pasok petrokimia akan berdampak langsung pada ketersediaan stok secara luas.

Tanpa adanya stabilisasi jalur distribusi di Selat Hormuz, para produsen di India kini harus berjuang melawan waktu. Bukan hanya soal menjaga laba perusahaan yang sudah tipis, melainkan juga memastikan bahwa risiko krisis kesehatan publik akibat kelangkaan alat kontrasepsi tidak menjadi kenyataan pahit berikutnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com

By Daniel Wege

Consultor HAZOP Especializado em IA | 20+ Anos Transformando Riscos em Resultados | Experiência Global: PETROBRAS, SAIPEM e WALMART

Deixe um comentário

O seu endereço de e-mail não será publicado. Campos obrigatórios são marcados com *