Gangguan di Selat Hormuz pada awal 2026 tidak hanya berdampak pada pasar energi global, tetapi juga memicu risiko yang lebih luas terhadap sistem pangan dunia, dilansir dari Money. Jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global menjadi krusial dalam perdagangan minyak, gas, dan pupuk, yang merupakan tiga komponen utama dalam produksi pangan modern.
Ketika konflik geopolitik memicu pembatasan bahkan penutupan jalur tersebut, dampaknya merambat dari sektor energi ke pertanian, yang berpotensi dirasakan langsung oleh konsumen melalui kenaikan harga bahan pangan dan ancaman kelangkaan. Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital perdagangan energi dunia, namun perannya dalam rantai pasok pupuk global sering kali kurang mendapat perhatian.
Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati jalur ini, termasuk urea dan amonia yang menjadi komponen utama nutrisi tanaman. Kawasan Teluk sendiri menyumbang hampir setengah produksi urea global serta sekitar 30 persen amonia dunia. Ketergantungan yang tinggi terhadap jalur ini menjadikan setiap gangguan memiliki efek langsung terhadap ketersediaan input pertanian di berbagai negara.
Data dari lembaga analisis Kpler dan CRU menunjukkan, krisis yang terjadi telah menyebabkan kontraksi sekitar 33 persen dalam rantai pasok pupuk global. Gangguan tersebut juga memengaruhi 38 persen pasokan pupuk berbasis nitrat dan 20 persen pupuk berbasis fosfat di dunia. Penurunan drastis aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama terganggunya distribusi pupuk.
Dalam beberapa periode krisis, lalu lintas kapal bahkan dilaporkan turun hingga mendekati nol akibat ancaman keamanan dan meningkatnya biaya asuransi, sehingga menciptakan bottleneck logistik yang signifikan. Sekitar setengah dari lebih dari 2,1 juta ton stok urea global dalam dua tahun terakhir tidak dapat dimuat ke kapal karena gangguan distribusi.
Ketergantungan pupuk nitrogen pada gas alam sebagai bahan baku juga memperparah situasi. Lonjakan harga energi akibat konflik membuat biaya produksi pupuk meningkat, sehingga tekanan terjadi dari sisi pasokan dan harga secara bersamaan. Krisis ini terjadi menjelang musim tanam di belahan bumi utara, yang memaksa petani mengambil keputusan sulit, termasuk mengurangi penggunaan pupuk atau bahkan mengubah jenis tanaman yang ditanam.
Sejak awal konflik di Timur Tengah, harga pupuk dilaporkan melonjak, dengan beberapa komoditas meningkat signifikan akibat terganggunya jalur distribusi dan terbatasnya pasokan. Keterbatasan pupuk berimplikasi langsung terhadap produktivitas pertanian. Tanpa input yang memadai, hasil panen cenderung menurun, sementara permintaan pangan global terus meningkat, terutama dari negara berpenduduk besar seperti China dan India.
Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga pangan. Krisis ini juga memperlihatkan kerentanan sistem pangan global yang sangat terintegrasi. Gangguan di satu titik, dalam hal ini Selat Hormuz, dapat dengan cepat menyebar ke berbagai sektor. Sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk meredam dampak krisis. China, misalnya, mempercepat pelepasan cadangan pupuk nasional untuk menjaga stabilitas pasokan domestik dan menahan kenaikan harga.
Upaya diversifikasi jalur distribusi dan sumber pasokan juga mulai dilakukan. Krisis di Selat Hormuz mempertegas keterkaitan erat antara geopolitik, energi, dan pangan. Kenaikan harga energi tidak hanya meningkatkan biaya produksi pupuk, tetapi juga biaya transportasi dan distribusi pangan. Hal ini berpotensi memperbesar tekanan inflasi pangan di berbagai negara.
Krisis di Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan global tidak hanya ditentukan oleh produksi pertanian, tetapi juga oleh stabilitas rantai pasok yang lebih luas, mulai dari energi hingga logistik internasional.
